Rabu, 25 Mei 2011

Kekuatan Maaf Rasulullah SAW

image
Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kotasuci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap  ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang.
Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang
musyrik?” 
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke  negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”.
Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan  perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.
Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya  itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya,  “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”.
Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!” Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”.
Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”. Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!” Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah.” 21 Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin.” Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.” Sahabat………..
Apakah kita pengikut ajaran beliau? Tetapi sejauh mana kita bisa memaafkan kesalahan orang? Seberapa besar kita mencintai sesama? kalau tidak, kita perlu menanyakan kembali ikrar kita yang pernah kita ucapkan sebagai tanda kita pengikut beliau…
Sungguh, beliau adalah contoh yang sempurna sebagai seorang manusia biasa. beliau adalah Nabi terbesar, beliau juga adalah Suami yang sempurna, Bapak yang sempurna, pimpinan yang sempurna, teman dan sahabat yang sempurna, tetangga yang sempurna. maka tidak salah kalau Allah mengatakan bahwa Beliau adalah teladan yang sempurna.
 Semoga Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, junjungan dan teladan kita yang oleh Allah telah diciptakan sebagai contoh manusia yang sempurna. Salam ’alaika ya Rasulullah………
Semoga Bermanfaat…

Rabu, 18 Mei 2011

Penciptaan Manusia dalam Al-Qur'an

A. Air yang Terpancar, Tulang  Belakang, dan Tulang Dada
 
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَنُ مِماَّ خُلِقَ(5) خُلِقَ مِنْ مَّاَءٍ دَافِقٍ (6) يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُلْبِ وَالتَرَائِبِ (7) إِنَّهُ , عَلَى رَجْعِهِ , لَقَا دِ رٌ(8 )
 
Artinya: “ Maka hendaklah manusia memerhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar, yang keluar diantara tulang punggung ( sulbi ) dan tulang dada. Sungguh, Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikanya (hidup setelah mati) “ (Qs.at-Thariq (86): 5-8 )

 
Testis dan indung telur terbentuk di dalam janin pada tempat ginjal ( Sudut pertemuan antara tulang belakang dan tulang dada) kemudian turun bersama semua ototnya ke bagian bawah perut.

   Imam ath-Thabari menuturkan bahwa para ahli tafsir berbeda pendapat dalam mengartikan kata at-taraib  (tulang dada). Di antara mereka ada yang berpendapat  bahwa at-tara’ib adalah tempat meletakkan kalung pada dada perempuan. Sementara yang lain berpendapat bahwa at-tara’ib adalah bagian tubuh antara kedua bahu dan dada. Ada juga yang mengatakan at -tara’ib adalah kedua tangan, kedua kaki, dan kedua mata.  Sebagian lain menyebutkan, at -tara’ib adalah apa yang keluar dari tulang belakang laki-laki dan bagian atas badanya. Namun ada juga yang menyebutkan at -tara’ib  adalah otak-otak yang terletak pada bagian bawah tulang belakang. Bahkan, adapula yang menyatakan bahwa at-tara’ib adalah cairan yang terdapat di dalam organ hati.
 
  Barulah setelah Mikroskop di temukan, sebuah mu’jizat agung yang terdapat didalAm Al- qur’an berkenaan dengan masalah ini terkuak.
 
  Ternyata  “Air yang terpancar” (Al -ma’ ad-dafiq ), baik pada laki-laki maupun perempuan, keluar dalam keadaan murni atas bantuan otak-otak kelenjar yang terdapat didalAm indung telur ( Ovarium ) atau Testis, dan kemudian turun “dari  antara sulbi ( tulang belakang) dan tulang dada” – yang merupakan tempat organ ginjal – secara bertahap disepanjang masa kelamin, sampai akhirnya testis (bagi laki-laki, pen.) atau indung telur (bagi perempuan, pen.) menetap di tempatnya yang baru pada bagian bawah perut.
  Penemuan ini tentu belum dapat di ketahui orang yang hidup seratus tahun yang lampau . Jadi, silahkan anda bertanya kepada mereka yang membangkang, “Siapakah gerangan yang dulu telah memberi Nabi Muhammad pengetahuan seperti itu? “
  Dalam kaitan ini Allah berfirman, “( Mereka tidak mau  mengakui diturunkan  kepadamu itu ) Tetapi Allah menjadi saksi atas (Al-Qur’an) yang diturunkan - Nya kepadamu (Muhammad).  Dia menurunkanya dengan Ilmu-Nya, dan para malaikatpun menyaksikan. Dan cukuplah Allah yang  menjadi saksi, “(Qs. An-Nisa’ (4): 166)
 

                                                     
                                                             Ternyata “ Air yang terpancar” ( al-ma’ ad-dafiq),
Baik pada laki-laki maupun perempuan, keluar dalam keadaan murni atas bantuan otak-otak kelenjar yang terdapat di dalam indung telur ( Ovarium)  atau Testis, dan kemudian turun “dari antara sulbi (tulang belakang) dan tulang dada” – yang merupakan tempat organ ginjal– Secara bertahap di sepanjang masa kehamilan, sampai akhirnya Testis atau indung telur menetap di tempatnya yang baru di bagian bawah perut.
Thu, 19 May 2011 @09:44

Sabtu, 09 April 2011

PROFIL SINGKAT PANTI SOSIAL ASUHAN ANAK AR-RODIYAH SAMBIROTO TEMBALANG SEMARANG

1.      Bentuk Organisasi

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates